Category: puisi

PUISI MBELING : DULU, KINI DAN NANTI

          Oleh : Heru Emka   Soal hal ihwal puisi mbeling, Remy Sylado sudah menjelaskan dalam kata pengantarnya untuk  buku antologi ini. Berikutnya saya mencoba menjelaskan kenapa antologi puisi mbeling ini harus ada dan mengisi khasanah sastra kita. Di masa remaja saya dulu, di awal tahun ’70-an, puisi mbeling yang dicetuskan oleh Remy Sylado di majalah Aktuil ( …Read more »

PUISI MBELING : DULU, KINI DAN NANTI ( Bagian 2 )

Esai: Heru Emka   Tak heran bila kemudian puisi mbeling yang digemakan oleh Remy Sylado di majalah Aktuil menggelorakan eforia penulisan puisi alternatif, yang kemudian menyebar ke berbagai media massa lainnya , tak saja yang berada di Jakarta, namun juga media massa di daerah ikut-ikutan membuka rubrik puisi mbeling  atau yang sejenisnya, untuk menampung hasrat pembaca muda yang begitu meluap …Read more »

Jendela Puisi Mbeling Heru Emka : LOGIKA MBELING ANAK-ANAK KITA

LOGIKA MBELING ANAK-ANAK KITA Di saat banyak orang menulis puisi dan berhasrat disebut sebagai penyair, pak Nug ( panggilan pak Nugroho Suksmanto ) justru berkata; “ Saya bukan penyair. Saya hanya  senang menulis puisi di waktu senggang.” Padahal kemampuannya membabar narasi dan gaya memadukannya dengan imajinasi, cukup mengesankan. Dua buku kumpulan cerita pendeknya ( Petualangan Celana Dalam dan Impian Perawan, …Read more »

Dara Jingga

Puisi: Heru Emka -         bagi ulangtahun Yanti Riswara Idris –    hanya cahaya jingga yang menyala di rembang senja warna yang membayang dari kilau indah di bibirnya matanya masih terpejam, menyambut belaian angin yang mengalir dari kibaran sutera hitam rambutnya   hanya kerlip kunang yang beterbangan di hening malam selebihnya senandung dedaunan yang menari dalam diam sedang runcing hidungnya menyerap wangi …Read more »

PLAY MISTY FOR ME

Sajak Cinta: Heru Emka   sisa terang fajar telah pudar saat denting pianomu tenggelam dalam ingatanku   semalaman aku menapak jejak kenangan dalam  lagu serupa bara di dingin salju   kebisuan yang menyerahkan dirinya dalam ayun gelombang irama hanya bisa menatapmu dan tersedu   saat mengenangmu kulupakan waktu bagai malam melupakan nyala kunang-kunang yang melayang sehabis hujan   tarian jemarimu …Read more »

banner banner banner banner banner banner banner banner banner

Archives

Jaringan