Jejak Memanjang
Sajak: Heru Emka
- kepada Alex Poerwo, Cunong Nunuk Suraja, Erry Amanda,
- Nanang Suryadi, Abdul Hadi WM, D. Zawawi Imron, Nugroho
- Suksmanto, Aloysius Slamet Widodo, Suka Hardjana, Remy Sylado
- dan semua sahabat sanubariku lainnya yang tak bisa kusebut satu ‘
- persatu, namun kukenang sepanjang hidupku….-
jejakmu memanjang. mengabur di ujung jalan
hangatmu masih terasa dalam genggaman
pintu masiyh terbuka. lampu kamar masih
menyala. terasa ada sesuatu yang diam
kita kenang dalam kesunyian
seolah masih terdengar gumam
di sela kap lampu dan rak buku
lalu aku bertehus sapa
dengan keheningan
setelah pertemuan, perpisahan memang
bukan beban, namun ikut mengaburkan
semua keakraban yang kita susun
dalam impian
jejakmu memanjang. mengabur di ujung jalan
satu sisinya mengeram di hatiku jadi masa silam
sisi lainnya terselip di hatimu ke masa depan
Lepas tengah malam, udara masih basah oleh hujan. Namun aku melangkah kaki ke jalan, seperti mencari pintu menuju masa silam : dulu saat aku melangkahkan kaki di jalanan sepi, sambil merangkai kata-kata puisi. Di pojok atas, bulan sepotong masih gigih bertahan. Seorang tukang becal mencoba menyerahkan mimpinya kepada sarung yang sia-sia menampik rasa dingin sehabis hujan.
Bagai sebuah parade kenangan, satu demi satu wajah sahabatku muncul dsari masa silam. Ada yang begitu lama menjadi bagian dari hidupku, ada yang baru saja bertaut namun lekat seperti mur dan baut. Ada yang selama ini belum kusua, hanya wajah dari fotonya saja yang berkelebat dalam ingatan, namun berbuah rasa akrab di angan. Semua timbul tenggelam,seperti sebuah jejak yang memanjang. Menjelang dini hari, aku kembali dari perjalanan sunyi seorang diri. Dan aku tuliskan puisi ini…


sukses slalu Pak Heru,,salam sastra