KATA YANG MELEDAK DALAM RUPA

Oleh: Heru Emka

Penyair adalah pelukis yang menggunakan media kata-kata. Sedangkan pelukis adalah penyair yang menggunakan media gambar dan bentuk ekspresi visual lainnya. Kita tahu, ada pelukis yang ikut mencebur ke dalam samudera kata-kata, berenangan dan menyelam di dalamnya. Ada pula penyair yang ikut bercumpu dengan gambar dan warna, membaurkan pesona kata dalam wacana rupa.

 

Di salah satu ruangan kantor Pak Nugroho Suksmanto, di kawasan Mega Kuningan, Jakarta,- terbentang sebuah lukisan besar, yang berisi huruf demi huruf sebuah puisi yang tersusun artistic. Sebuah bukti bagi sebentuk puisi visual, yang diam-diam hadir dalam wacana senirupa kita.

 

Di mancanegara, ada Ebon Heath, seniman Brooklyn yang berusaha melebarkan pesona kata dalam sebentuk rupa. Heatah mencomot ( mencatat ) sembarang kata yang didengarnya, lalu menyusunnya dalam bentuk apa yang disebutnya sebagai ‘typographic sculptures free text ‘, dalam lembaran karton, plastic atau mika dalam bentuk 2 dimensi yang ditata sedemikian rupa, sehingga deretan kata-kata itu seakan menyembur keluar dari bejana dam ‘meledak’ di dalam ruang.

 Tentang puisi visualnya yang diberi judul  “Typographic Mobiles Sculptures “ ini, Heath menjelaskan, “ Yang menjadi strukturnya adalah sebentuk representasi fisik dari bahasa kita sebagai obyek. Ini adalah kegaduhan bahasa yang terpampang dalam semua segi kebudayaan modern, terutama dalam kehidupan perkotaan. Dari berbagai tanda, papan iklan, toserba dan kata-kata yang mermunculan pada T-shirt yang dikenakan orang, semua berdesakan untuk merebut perhatian kita. “ (“The structures are a physical representation of our language as object. This ‘visual noise’ permeates all aspects of modern culture, especially urban living. From the signs, billboards, stores, ) 

 

Saya sangat setuju dengan penuturan Ebon Heath, karena di kota riuh seperti Jakarta saja, kita berhadapan dengan semua bentuk kebisingan verbal dan auditif, dari kebisingan yang dengan sengaja ingin kita nikmati dari perangkat audio di mobil, hingga sekian banyak percakapan, bisikan atau teriakan yang tek terhitung dan menelusup masuk dalam pendengaran kita.

 

Belum lagi media teks yang baru seperti deretan kata yang bergerak secara on line dan teknologi transmisi yang menyembunyikan keriuhan kata kata, member wahana baru di mana kata-kata dikomunikasikan tanpa diucapkan. Betapa riuah rendahnya kata-kata yang berseliweran di sekitar kita andai semua transmisi kata yang tak Nampak ini menjadi Nampak. Bahkan bisa saja terjadi ledakan kata-kata yang berbenturan, andai apa yang tak kasat mata itu tampil sebagai sebentuk rupa yang bisa dipandang mata.

 

Inilah yang menjadi alas an bagi Ebon Heath untuk membuat serangkaian puisi visualnya ; “Typographic Mobiles Sculptures.” Kita akan melihat kata-kata yang berjejalan di mana-mana dan meledak di dalam rupa. Bagaimana menurut anda ?

 

 

Ilustrasi : Ebon Heath dan puisi visualnya.

Ilustrasi 2 : “Typographic Mobiles Sculptures”, kata yang meledak di dalam rupa.

 

 

 

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


five + = 10

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

banner banner banner banner banner banner banner banner banner

Archives

Jaringan