MENGUPIL SEBENTAR LALU TERTAWA
Oleh: Heru Emka
Entah kenapa pagi ini saya ingin sedikit bermain-main dengan teori sastra. Salah satu penyebabnya mungkin karena saya ingin memanfaatkan berbagai buku tentang teori sastra yang ada di rak buku saya, sekedar untuk memanfaatkan kegunaan buku-buku itu yang telah lama bertengger di sana. Lalu sebut saja puisi, yang secara umum kita maknai sebagai ‘ ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait ( ini menurut pengertian yang disodorkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, 1997, halaman 706 ). Begitu pula ahli sastra terkemuka seperti misalnya M. H. Abrams, dalam bukunya : A Glossary of Literary Terms. ( Thomson-Wadsworth, 2005 ), selain memperkenalkan berbagai definisi lainnya tentang puisi juga kepada kita juga dikenalkan berbagai jenis bentuk nya seperti pantun, soneta, puisi bebas berikut segala ciri dan aturannya, dan sebagainya, dan sebagainya .
Sedangkan Owen Barfield, dalam bukunya ; Poetic diction: a study in meaning (Wesleyan University Press. 1987, halaman 41) menyatakan bahwa ‘ puisi memiliki tradisi untuk menampilkan hal yang bersifat luhur yang terkandung dibalik makna yang terseimpan pada berbagai struktur metafora dan diksi puisi yang disusun oleh para penyair dari masa ke masa. Lantas tentang apa yang disebut sebagai ‘struktur batin puisi’, Owen juga menjabarkan bahwa ‘media puisi adalah bahasa. Salah satu bukti dari struktur atau tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi haruslah bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna secara menyeluruh.
Masih menurut Owen, puisi juga harus menggenggam rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok bahasan yang ada pada puisinya. Pengungkapan tema dan rasa ini berkait diyakini terkait erat dengan latar belakang penyairnya, baik secara psikologis maupun soscial. Dengan segenap wacana pengatahuan dan pengalamanan hidupnya. Masih menurut Owen, justru hal-hal yang telah diungkapkan tadi lah yang lebih berperan bagi terbentuknya makna puisi, sebagai ‘isipuisi’ dan bukan tergantung pada segenap upaya pemilihan kata-kata, rima, gaya bahasa,- yang merupakan ‘bentuk puisi’ saja,
Dengan bekal pemahaman seperti inilah saya menghampiri ‘puisi puisi sepele’ yang ditulis oleh A. Slamet Widodo,- yang berkisah tentang UPIL dan berbagai tema lain yang seringkali dianggap remeh dalam blantika perpuisian kita. Penyairnya mengtatakan kepada saya, bahwa puisi ini ditulis sebagai puisi anak, ditulis sebagai bacaan anak. Tentang Upil sendiri ( benda yang terlanjur dikonotasikan dengan hal-hal yang dianggap bersifat jorok ) kita akan meragukan kelaikannya sebagai bacaan anak, terutama bila kita berpikir sebagai orang dewasa yang konsultatif dan bersikap sebagai guru yang memutuskan mana yang bolah dibaca atau tidak oleh anak-anak. Namun benarkah Upil – yang jorok itu – tak berguna dan tak ada manfaatnya untuk diketahui ?
Dengan segenap rasa penasaran, saya ingin mengetahuinya, dan akhirnya di tangan saya terpegang sebuah buku : Buku Pengatahuan Paling Jorok Sedunia ( Yim Soo Yung, BIP, 205 ) yang menjelaskan bahwa banyakhal yang selama ini kita anggap jorok, dari kecoak, lalat, upil, dahak hingga kentut, ternyata juga bermanfaat. Tentang Upil misalnya, di halaman 79 buku ini dijelaskan :
“ Agar tetap hidup, kita harus terus bernafas. Tanpa bisa kita lihat, di dalam udara yang masuk ke dalam hidung kita ada juga benda-benda yang berbahaya, seperti debu, serbuk bunga, jamur, bakteri dan virus ! Untuk itulah hidung memiliki alat khusus yang berfungsi menyaring penjahat-penjahat yang tinggal di udara ini.
Debu dan bakteri yang berada di udara akan masuk ke lubang hidung dan akan terperangkap di bulu yang jeras seperti sapu. Bulu hidung merupakan pelindung berjaring yang pertama. Kalau pun debu dan bakteri beruntung bisa melewati jarring yang pertama ini, kita tidak perlu khawatir karena ada pelindung kedua yang lebih kuat yang sudah menunggu, yaitu lendir lengket yang menempelkan debu, bakteri dan lain-lain seperti perekat. Lendir ini keluar dari selaput mukosa dangat tipis yang menutupi bagian dalam hidung, kemudian di sinilah ingus yang berisi air, debu, bakteri dan sel kulit mati terbentuk.Menjadi upil “
Tadi adalah bahasa naratif ilmu pengetahuan, yang menjelaskan segala hal tentang Upil. Ternyata, tanpa saya duga, A. Slamet Widodo juga menguraikannya dalam bentuk puisi, di bawah ini :
UPIL
wujudnya kecil seperti pil
gampang diambil ….gampang dicungkil
orang bilang namanya”upil”
warnanya kuning-kehijauan
rasanya asin
orang bilang namanya “upil”
bentuknya tak pasti
bersembunyi di lubang hidung
bersembunyi di bawah bangku sekolah
orang bilang namanya “upil”
“kenapa upil bule besar?”
“karena hidung bule besar!”
saat pilek
umbel keluar masuk seenaknya
supaya bersih ingus kita keluarkan
lalu tangan kita kepretkan
ee …..umbel mampir di celana!
ngupil boleh saja
asal ditaruh di tempat aman
ngupil boleh saja
asal jangan habis cebok!
Jakarta, 31 Agustus 2010
Puisi ini memang terlepas dari definisi puisi versi Kamus Besar Bahasa Indonesia, atau penjabaran M. H. Abrams dan berbagai blab la bla lainnya, karena jelas bentuknya adalah puisi bebas, Namun menurut saya, puisi ini – sedikit banyak – mengena dengan apa yang dijelaskan oleh Owen Barfield, dalam Poetic diction: a study in meaning yang saya sebutkan tadi, tentang hal-hal yang bersifat luhur yang terkandung dalam puisi. Di sisi lain, tentang metafora dan diksi bahasa pada puisi Upil, memang bisa diperdebatkan sejauh mana metafora dibutuhkan di dalamnya, karena penyairnya justru tak merasa membutuhkan bahasa figuratif yang berkelok-kelok dan sarat dengan berbagai perlambang dan metafora seperti yang biasa kita temukan dalam puisi para penyair lainya.
Saya justru melihat A. Slamet Widodo selalu bersikap santai dengan puisi-puisinya, eolah-olah dia sedang berjalan nyaman di tempat terbuka dan dengan sikap dan gaya yang reportatif, sia menuliskan apa saja yang melintas dalam pandangannya ( secara fisikal atau secara batiniah ) dengan penuturan yang tetap santai, jauh dari pretense untuk mempengaruhi dan menggurui, seperti yang say abaca pada puisi ini :
SEBENTAR
sebentar begini
sebentar begitu
sebentar tertawa
sebentar menangis
sebentar marahan
sebentar baikan
sebentar benci
sebentar rindu
sebentar bahagia
sebentar kecewa
sebentar lagi ulang tahun perkawinan
sebentar lagi anak sudah besar…. lulus… kawin
sebentar lagi punya cucu
sebentar lagi jadi kakek nenek
sebentar lagi tua bangka ….keriput…pkun ……mati
bukankah hidup hanya sebentar ?
singgapore,13 agustus 2010
Apa yang terkesan dari puisi seperti ini ? Jelas bukan pesan yang mendalam tentang berbagai renungan falsafi yang serius dan bergayut mendalam seperti renungan tentang hakekat dan makna hidup dan mati, seperti yang biasa kita temukan dalam puisi-puisi Goenawan Mohammad atau Sapardi. Juga bukan tema-atau besar gagasan besar tentang situasi sosial-politik seperti yang ada dalam sajak-sajak Rendra. Ada memang renungan tentang hidup ini, bahwa segalanya memang harus lewat, mengalir seperti air, just passing over…Namun A. Slamet Widodo menuliskannya dengan ringan, tanpa beban.Dengan keberanian dan kepastian kita dalam hidup sehari-hari, bahwa kita pun bisa menulis puisi dengan rasa bahagia dan lega.Bahwa sebenarnya puisi adalah hal yang biasa saja dalam kehidupan kita, seperti nasi, seperti kucing, sepeda motor. Bahwa puisi bukanlah hal yang sering dimitoskan ‘milik para penyair besar saja’, namun puisi-puisi ini telah menjadi bukti, bahwa puisi adalah hal yang amat akrab dengan kehidupan kita sehari hari. Bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, di mana saja. Seperti saat kita berbicara, tersenyum, atau tertawa . Seperti kata puisi di bawah ini :
TERTAWA
ketika kita tertawa
ketegangan jadi sirna
hati kesal jadi lega
muka muram jadi ceria
mengubah ketegangan
jadi kerilekan
saat tertawa
otot wajah berolah raga
ada yang mengkerut
ada yang meregang
pembuluh rambut terisi darah
sari makanan dikirimkan
sel sel darah kembali muda
tertawa lepas
bikin lupa segala
tertawa bebas
bikin stres hilang
keseimbangan terjaga
tertawa kebablasan
namanya gila
sambutlah harimu dengan senyum
maka rejeki akan menghampiri
sambutlah harimu dengan kecut
serta merta keberuntungan menjauhi
mari kita tutup puisi ini
dengan tertawa
ha ha ha………..sudah ya!
Jakarta,25 Mei 2005
