PUISI MBELING CUNONG NUNUK SURAJA

Oleh: Heru Emka

 

Apakah puisi mbeling harus bergaya slebor ? Banyak puisi mbeling yang ditulis dengan idiom bahasa yang disebut ‘slebor’ (ngaco, seenaknya, semau gue), namun ini hanya salah satu kemungkinan yang bisa dicapai dalam daya ungkap penulisan puisi mbeling, yang memang dimaksudkan untuk membebaskan seseorang dari idiom bahasa yang biasanya digunakan oleh para penyair yang sudah mapan.

 

Salah satu kemungkinan lain dari puisi mbeling adalah member peluang bagi nuansa protes spontan, yang diungkapkan secara terbuka dengan teriakan, atau yang tersusun dalam ungkapan yang lebih ‘sistematis’, seperti idiom yang ditampilkan Cunong Nunuk Suraja dalam puisi-puisinya di bawah ini.

 

Tiga puisinya yang saling berkait tentang terror ini, saya menemukan gaya puisi mbeling yang cenderung surealis. Sajak pertama, yang berjudul terror memang menampilkan sebuah ungkapan yang deskriptif-normatif. Namun pada sajaknya yang kedua; Wilbut Teror, saya seperti menaiki anak tangga selanjutnya, di mana Cunong menyodorkan tanda bahwa terror telah ‘berbuah teror’. Efek domino tentang terror ini memuncak dalam orgasme kata, di mana Cunong mencampuradukkan wacana dan identitas penanda, di mana Wilbur ( dugaan saya mengacu pada nama Wilbur Scram, pakar ilmu komunikasi social yang mendedahkan teori bahwa media massa mrelebarluaskan peristiwa, dan teknologi informasi merubah dunia menjadi ‘desa kecil’ ) yang menjadi lambing identitas Barat, berjalin erat dengan Ronggowijoyo Mertotaruno. Kata-kata menyembur bebas bagai rentetan peluru dari senapan mesin. Apakah ini menjelma menjadi sumpah serapah atau tidak, Cunong tak perduli lagi. Semua sudah memuncak dalam kejengkelan. Dalam sajak yang berikutnya; Balada Susno Duaji, Cunong meminjam idiom dalam sajak balada Rendra; Balada Terbunuhnya Atmo Karpo, untuk menggambarkan dilema batin seorang Susno Duaji.

 

Cunong Nunuk Suraja bukan orang baru dalam blantika puisi Indonesia. Puisi-puisinya selain ikut menghiasi lembaran puisi mbeling di majalah Aktuil dulu, juga terhimpun dalam berbagai antologi, sejak antologi Bulak Sumur – Malioboro. (Antologi Puisi Bersama, 1975) hingga Gempa Padang ( 2010). Kini sehari-harinya Cunong mengajarIntercultural Communication di FKIP – Universitas Ibn Khaldun, Bogor.

Di bawah ini adalah puisi mbeling Cunong, yang akan menjadi bagian dari antologi puisi mbeling Suara Suara dari Pinggiran ( Voices from the Edge ), yang sedang saya kerjakan.

 

MEMBATASI TEROR

 

 

lagu-lagu telah menyisipkan teror

 

pidato-pidato mengacungkan teror

film-film sudah lama menjadi teror

makam-makam bersembunyi dalam teror

 

kematian menjadi teror

kelahiran dicurigai teror

pembunuhan jelas-jelas teror

acam mengancam mendorong terror

 

 

WILBUR TEROR

 

 

senja kemarin televisi mengutip segala jejak teror

subuh ini diulang lagi berita basi tentang teror

entah siang hari haruskah makan siang berita teror?

 

sejak Jumat hingga Selasa ini memburu meracut membedah teror

masihkah gembong itu menciptakan teror dan teror?

berita televisi itu menjadi turunan sebuah bilangan terror

 

 

WILBUR RONGGOWIJOYO MERTOTARUNO

 

ledakan menguburkan kota-kota kecil di kaki gunung berapi dengan

 

partikel bumi mengunci nyali

rumah-rumah rubuh tanpa dapat “sambat” minta tolong berjamaah

 

terhisap berita kota

negara tetangga kehilangan peta kota-kota kecil itu dari penginderaan

imaji hati atas budaya yang lesap

 

ledakan kemudian terjadi setelah beribu tahun menjadi hijau subur

 

disengaja tangan teror

memorakporandakan kepercayaan meninggikan rasa musuh mencurigai

 

menjebak tetamu asing

nama Wilbur menjadi sasaran tembak di tempat kaki menjejak pada

setiap dermaga kapal bersandar

 

kekayaan demi kekayaan dikumpul ditimbun disimpan di gudang-gudang

 

pelabuhan

terkikis erosi kepercayaan anak negeri yang menggerogoti semuanya

 

karena anggapan sebuah duri

bangsa yang menciptakan kesabaran keramahan keterbukaan menguncup

 

memutus rantai asing

nama Wilbur jadi virus perpecahan warga bangsa negara yang makin

berantakan saling siap mengganyang

 

BALADA SUSNO DUADJI

Wednesday, November 25, 2009 at 6:57am

 

 

kutebah pantat kuda hitam malam-malam

sambil kucaci bulan sabit tua kianat di ufuk barat

 

 

sambil kusebrangi zebra cross pagi sepi transportasi

kukenang kedudukan petinggi intrograsi

 

sekarang kudekap bantal guling kamar tidur temaram

menunggu kesaksian alam dan sekitarnya membuka pelangi misteri

 

kutebah malam-malam kelam dengan segala cara intrograsi

menjambak menendang menyepak menguntungi kuku-kuku pencuri

 

kukuliti jiwa segala bentuk manusia kianat penjahat

hingga jangat hukum bumi ini tak lagi tempat bagi pendengki pengumpat

 

kusiapkan diri bagi elegi esok pagi

karena kupercaya cinta tak harus memiliki

 

Ilustrasi : TEROR Digital Artwork by Peter Mohrbacher

 

 

 

Bookmark and Share

One thought on “PUISI MBELING CUNONG NUNUK SURAJA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


+ nine = 14

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

banner banner banner banner banner banner banner banner banner

Archives

Jaringan