PUISI VISUAL YANG TERCIPTA DARI DEMAM

Oleh: Heru Emka

 

Dalam gigil demam semalam, aku tak bisa tidur,. banyak impian yang lucu menarik-narik aku dari lelap tidurku. Ada kelinci yang memaksaku untuk  mengenakan kepalanya. Dan sebagainya, dan sebagainya. Aku mendadak terbatuk, bangun terhuyung-huyung, minum obat, lalu entah kenapa, aku buka laptop, lalu aku membuat puisi visual ini…

 

Tadinya ingin segera kuunggah begitu selesai , pukul 02.18 dini hari tadi. Namun kepalaku terasa memberat, jadi aku tidur lagi. Baru kini, jam 08.45, kuunggah puisi visualku, untuk kelian semua , sahabat mayaku…

 

 

 

 

PUISI VISUAL HERU EMKA

 

Penyair adalah kekasih kata-kata. Bagi seorang penyair, kata-kata adalah segalanya. Namun penyair juga seorang manusia, yang tak saja terdiri dari darah dan daging, namun juga punya jiwa dan perasaan, tentu saja. Karena itu,  seperti layaknya manusia, yang sekian lama berhubungan dengan sesuatu yang sama, kadang timbul juga rasa bosan, dan keinginan untuk mencoba sesuatu yang berbeda. Dalam ranah psikologis, upaya untuk melakukan ‘aksi loncat pagar’ ini kita kenal  dengan istilah ‘selingkuh’.

 

Dalam wacana moral, selingkuh diartikan sebagai tindakan tidak setia, dan sebaiknya jangan dilakukan. Namun toh perselingkuhan terus terjadi, di mana-mana, dari masa ke masa.Hasilnya relatif, ada yang membawa bahagia, dan yang menuntun pelakunya ke dalam derita. Begitu pula hubungan penyair dengan kata-kata, kekasih hatinya,- kadang juga berubah menjadi rasa bosan, terutama bila sang penyair tak lagi menemkukan bentuk ideal dalam kiprahnya merangkai kata-kata menjadi puisi, maka penyair mulai berselingkuh, tergoda dengan rupa (imaji visual ) dan meninggalkan kata-kata ( dalam bentuknya yang verbal ) sehingga terjadilah apa yang disebut sebagai puisi visual.

Bentuknya bermacam macam, dari perpaduan kata dengan rupa ( foto, gambar, poster, dan juga suara ) atau  berupa ‘lukisan kata-kata’, hingga apa yang kini disebut sebagai seni instalasi.

 

Tentu saja tak mungkin ada asap tanpa api, dan munculnya puisi visual dalam khasanah sastra dunia pun ada pemicunya, yakni kelompok senoiman eksentrik yang menyebut dirinya sebagai kelompok Fluxus, yang justru menyebut karya mereka bukan sebagai puisi visual, namun sebagai sebuah intermedia. Intermedia ini membaurkan ‘daya ucap’ beberapa media, seni visual dengan teks, sehingga menampilkan ulang puisi dalam bentuk yang lebih kongkrit, dsn menyeretnya keluar dari media tradisionalnya : lembaran buku puisi. Aksi kreatif puisi multi media Fluxus ini kemudian menimbulkan efek : gelombang pencipta bentuk puisi baru yang disebut sebagai puisi kongkrit.

 

Puisi kongkrit tetap berbasis ( bertumpu ) pada puisi, namun agar tidak begitu-begitu saja salam pandangan mata, disusun ulang dalam semua unsur tipografi yang ada. Maka puisi visual pun hadir sdebagai teks yang telah diperkaya. Sehingga memiliki fungsi visual, yang tak saja lebih asyik dipandang, namun juga membuka cara baru untuk menyimak puisi, juga membuka peluang bagi penafsiran yang baru.

 

Namun kalau saya sih, tidak lagi benci dengan kata-kata, karena kata-kata adalah kekasih seorang penyair seperti saya. Memang saya kadang bosan dengan penampilan kata-kata yang begitu-begitu saja, dan melihat ‘rumput tetangga lebih hijau’, peluang ilustrasi dan wacana rupa yang selalu saya reguk sepuasnya saat saya menemukan berbagai ilustrasi dan foto sebagai pelengkap tulisan saya di dunia maya. Maka saya bulatkan niat saya untuk ‘berselingkuh’ mencoba mencumbui rupa. Hal ini lebih bersifat sebagai sebuah ‘perselingkuhan terbatas’, karena saya hanya ingin melakukan sebuah rekreasi kreatif, mencari sebuah selingan yang menyenangkan. Hasilnya ternyata cukup mengasyikkan. Di bawah ini adalah satu dari hasil kegairahan baru saya, sebuah puisi visual yang saya beri judul Simalakama. Maka saya mengajak sahabat saya, Cunong Nunuk Suraja, untuk berbagi kegembiraan menulis puisi visual. Kami berdua sudah siap mengawalinya, sebagai bagian dari dinamika wacana sastra bagi teman-teman kerabat Kelompok Studi Sastra Bianglala.

 

Bila anda berminat, silakan juga membuatnya dan mengunggahnya di laman Kelompok Studi Sastra Bianglala, atau di dinding FB saya. Selamat ‘berselingkuh’ !

 

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


nine − 6 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

banner banner banner banner banner banner banner banner banner

Archives

Jaringan