SUAMI KABUT
Sajak: Heru Emka
= kembali kau hisap aku yang sedang mengambang pelan lepas
tengah malam saat udara dibasahi rinai hujan kau hisap aku
ke dalam liukan lubang terdalam di tubuhmu saat bulan hanya
sekedar cahaya samar yang melapisi malam bagaikan gaun
sutera transparan yang membalut badan seorang seorang isteri
yang kesepian ……
= kau adalah isteriku, kolam yang telah mengering oleh kemarau
panjang meninggalkan kenangan akan senda gurau para ikan
sementara para kecebong berloncatan ke dalam tubuhmu dengan
bulatan helembung udara mungil yang melayang di air berderetan
seperti untaian mutiara sebelum pecah di permukaan disaksikan
induk katak yang bersila diatas bunga padma…
- angin musim yang selalu terbang melayang kini memang sudah
pincang tak lagi bisa berjalan lempang sehingga dia sering keliru
menandai cuaca dan mengirimkannya di tempat-tempat yang
tidak semestinya seolah kakek pikun yang keliru melelehkan gunung
salju menggenangkan tirta memenuhi perut samudra yang balik
memuntahkannya ke sepanjang pantai dunia….
- angin musim yang kebetulan abai dalam angan kadang mengabur
amblas dalam panas bersimpuh tak hendak menjauh seolah lumpuh
dengan sepenuh gemas menjalar lepas menyerap habis semua yang
cair dan uap air merampas kehijauan rumputan digantikan warna
coklat padam kehitaman tanah mati dengan sisik-sisik retak berserak
mengular beranak-pinak…..
- aku hanya bisa terpaku bisu dalam derai waktu saat dirimu
kehilangan makna kehidupan perlahan-lahan bagaikan ibu yang
kehilangan air susu sambil menahan beban perasaan ketika airmu
menguap dalam lintasan waktu dan para ikan menggelepar dalam
pudar sisa air kala pekat lumpur mulai membaur sebelum sisa tanah
kering kerontang bagaikan arang…..
- kau hisap aku ke dalam liukan lubang terdalam di tubuhmu
dalam sebuah percumbuan senyap dan aku akan menyalurkan
kelembaban kabutku agar kau hamil dengan berjuta butiran tanah
yang rekah membasah ketika di angkasa geletar guntur mulai menegur
agar kita kembali mengangankan air hujan memenuhi tubuhmu, mengisi
lagi hidup dengan kesegaran….
semarang- 14 februari 2010 –
puisi ini termuat dalam bukuku : Meminang Sang Rembulan – Seratus Sajak Cinta Heru Emka (2012) yang akan diterbitkan -
Suatu hari dalam hidup kita, pasti akan terjadi suasana seperti yang disebut sebagai ‘when love so complicated’, atau ketika cinta sedang salah kaprah. ( Dan hal ini bisa terjadi pada siapa saja ) Selalu ada saja masalahnya, mulai dari salah paham bertubi-tubi yang memperburuk situasi, hingga berbagai ‘korsluiting’ lain dalam hubungan dan komunikasi sehari-hari. Pemicunya ada saja, mulai dari be te, uringan-uringan menstrual, sms nyasar, dilirik orang dan sebagainya.
Dengan puisi ini saya mencoba kisahkan hal ini : ketegangan yang membara di tengah cinta yang perlu diremajakan. Toh aku tak bisa menuliskannya dalam gaya sinetron dengan adegan pertengkaran keluarganya. Sebaliknya aku memilih bercerita dengan bahasa perlambang yang lebih puitis, menggambarkan sebuah kolam yang dilanda krisis, toh walau kemarau mengancam, sang suami kabut ( entah kenapa kadang saya, lelaki , sering merasa sebagai kabut ) mencoba tetap setia pada kolam yang mulai kering airnya. Apakah ini berakhir happy end ? Menurut anda bagaimana ?
